Angels & Demons
Rabu kemarin (20/05/09) baru dapat kesempatan nonton film “Angels and Demons” di Theater 1 Studio 21 Manado Town Square. Sebenarnya sempat tertipu dengan jadwal Studio 21 di koran…
Jadwal di koran menyebutkan film ini main jam 17.30, jadi tepat pukul 17.00 buruan cabut dari kantor, ehhh pas nyampe ternyata udah main sejak pukul 16.45 dan main berikut jam 19.10..
WTF?? nunggu 2 jam??? wupffhh… tapi karena udah kentang (kena tanggung - red), yo wes lah.. beli tiket, ke Waroeng Pojok di lantai dasar, pesen Nasi Campur Empal+Udang ama Ice Tea, trus buka laptop buat fesbukan… lumayanlah untuk menghabiskan waktu 2 jam…
====================================================
Rame karena katanya film ini adalah sekuel dari film “The Da Vinci Code” (TDVC) yang dulunya sempat memicu kontroversi.
O yah, sebelumnya sorry yah, saya tidak akan menceritakan sinopsis film ini,
notes ini hanya berupa komentar dan penilaian saya thd film tersebut..
(Enak aja, masa’ gw yg bayar tiket trus elo cuma pengen denger ceritanya??)
Oke, kita mulai…
Meskipun film ini memiliki hubungan yang teramat sedikit dengan TDVC bahkan mungkin tidak ada sama sekali, namun secara umum film ini alurnya masih sama dengan pendahulunya ; yaitu proses panjang memecahkan teka-teki… khas Dan Brown…
Bedanya, dalam film ini proses solving puzzle tersebut diselingi dengan deadline teror kehancuran Vatikan.
Dan secara umum juga alur proses yang disertai deadline tersebut cukup untuk membuat penonton larut dalam ketegangan.
Nah ini beberapa bagian dari film ini yang menarik untuk saya komentari :
- Setting lokasi syuting yang dibuat semirip mungkin dengan Vatikan.
Vatikan dicloning karena film ini tidak mendapatkan ijin untuk syuting disana…
Ya iya’lah…
Vatikan adalah tempat suci bagi umat Katolik, seperti halnya Mekkah bagi umat Islam, jadi mana mungkin bisa dapat ijin buat syuting disana?? Mimpi kaleeeeeeeeeeee…….
Jadilah beberapa sudut kota Roma yang disulap menjadi mirip Vatikan,
setiap detail landmark di Vatikan benar-benar dibuat semirip mungkin…
Setiap detail bangunan penting dalam sejarah umat Katolik benar-benar menambah nuansa misteri film yang diadopsi dari novel fiksi karya Dan Brown ini.
Mulai dari Sistina Chapel, St. Peter Basilica, St.Peter Castle, sampai St.Peter Square, dll….
Awesome… - Swiss Guard (Paspampres-nya Paus)
Aneh yah? Paspampres Vatikan kok mengambil nama negara lain : “Swiss”?
Kok bisa? Ok, biar gak penasaran silakan tanya sejarah Swiss Guard ke uncle google… - Conclave atau Proses Pemilihan Paus sebagai pemimpin besar umat Katolik yang digambarkan dengan jelas. Selama ini conclave dianggap sebagai ritual suci yang sangat tertutup. Umat katolik hanya bisa mengetahui berakhirnya conclave berdasarkan warna asap yang keluar dari cerobong Sistina Chapel (lokasi pemilihan), yaitu ketika surat suara semua kardinal dibakar sebagai simbol kerahasiaan proses conclave ini.
- Dan ini bagian film yang menurut saya sangat aneh : Yaitu ketika seorang Carmelengo*) yg diperankan oleh Ewan McGregor, hampir saja menjadi pahlawan ketika dia berhasil menjauhkan Vatikan dari bencana ledakan besar. Sampai pada scene ini penonton mengira film telah selesai, seseorang menjadi hero dan perfect happy ending. Bahkan ada penonton yang bertepuk tangan.
Namun saat itu juga dalam hati saya berkata :
“Hhmmm.. ada yang aneh nih.. ending yang sangat-sangat aneh…”
“Apakah mungkin alur film yang begitu memukau harus berakhir dengan ending superhero gaya Spiderman?” “Rasanya ada yang salah…”
Inilah yang saya katakan film ini hampir saja memiliki ending yang sangat jelek dan tidak sepadan dengan jalan cerita film ini yang smooth.
Tetapi untunglah feeling saya benar, ternyata masih ada kelanjutan film ini yang menurut saya menjadi ending yang sepadan dengan alurnya yang begitu apik.
Penasaran? nonton sendiri aja yah… - Yg sering nonton bioskop, coba perhatikan tanda tangan Lembaga Sensor Indonesia udah ganti dari dulu Bu Titie Said, skg jadi Pak Mukhlas Sardi… (ga penting euy…)
- Ada pesan penting dari film ini, yaitu hendaknya antara sains dan agama tidak dipertentangkan.
Anyway…
Saya selalu menilai suatu film dengan membandingkannya dengan jumlah uang yang saya keluarkan untuk membeli tiket dan cemilan.
Dan film ini menurut saya cukup sepadan dengan harga yang saya bayar dan jauh lebih menegangkan dari pendahulunya TDVC…
Bagi anda yang belum membaca novelnya, saya sarankan jangan membacanya terlebih dahulu sebelum menonton film ini.
Supaya anda benar2 blank dalam menonton film ini dan tidak akan membanding2kan antara buku dan film. Saya jamin anda akan benar2 menikmati alur filmnya.
Overall film ini highly recommended-lah.. saya kasih rate 9 of 10.
“From Santi’s earthly tomb with demon’s hole,
‘Cross Rome the mystic elements unfold.
The path of light is laid, the sacred test,
Let Angels guide you on your lofty quest.”
*rencananya mau nonton lagi kalo udah sepi*
====================================================
Ket *) :
Carmelengo : Pastor Pembantu Rumah Tangga Paus yang memegang penuh power di Vatikan pada masa vakum ketika Paus meninggal sampai pada proses pemilihan Paus yang baru selesai.
====================================================
