KOTA LANGOWAN - Sisi Lain
Tulisan ini adalah tulisan lama yang saya buat sekitar tahun 2001-2002 (lupa persis) ketika wacana pembentukan Kota Langowan mulai diangkat.
Tulisan ini juga sudah pernah dimuat pada 3 edisi Harian “Telegraf” (harian ini sekarang sudah kolaps).
=========
KOTA LANGOWAN, Sisi Lain Sebuah Wacana
Hari Sabtu waktu menunjukkan pukul 11.35 siang, dengan menumpang bendi akhirnya penulis memasuki kompleks Pasar Baru Langowan dimana sebelumnya penulis sempat terjebak macet yang disebabkan parahnya kerusakan yang terdapat di ruas jalan menuju pasar Baru.
Sedemikian parahnya, sehingga kalo mungkin si kuda bisa ngomong, dia barangkali akan membentuk Persatuan Kuda Bendi Langowan dan mengajak teman-temannya sesama kuda untuk berunjuk rasa menuntut perbaikan di ruas jalan menuju pasar dan terminal tersebut. Karena si kuda tahu suara-suara masyarakat Langowan yang menuntut hal yang sama, sudah sejak lama tidak pernah digubris pemerintah kecamatan untuk kemudian diteruskan kepada Pemkab Minahasa. Suara-suara itu cuma dianggap angin lalu oleh pemerintah yang saat ini masih sedang berpesta merayakan keberhasilan mereka dalam mengoperasikan pasar Baru Langowan.
Belum lagi dengan kendaraan-kendaraan umum yang parkir dan mencari penumpang di pinggir jalan, menambah parah kemacetan, bukankah mereka seharusnya berada di terminal ?. Beberapa petugas DLLAJ yang terlihat, sedang sibuk menagih retribusi dan tampak tak ambil pusing dengan kemacetan dan (pura-pura ?) tak peduli dengan kendaraan umum yang parkir dan ba pancuri jalur di sekitar situ. Ketika turun dari bendi penulis melirik jam tangan, walah, untuk jarak dari Pusat Kota ke Pasar Baru saja memakan waktu sampai 15 menit ? Bukan main, lawang-lawang Manado pe macet.
Ketika penulis membaca tulisan besar “PASAR LANGOWAN” yang terbuat dari besi Stainless yang terpampang megah, ada kebanggaan tersendiri bagi penulis sebagai warga Langowan karena pasar ini disebut-sebut sebagai pasar terbesar dan termegah di Minahasa Tengah (atau mungkin di Minahasa ?). Bangga karena pasar Langowan menjadi sentra perdagangan ± 9 kecamatan di sekitar Langowan. Saking bangganya, penulis hampir membusungkan dada ketika mulai melangkah memasuki pasar. Namun, ketika teringat penderitaan si kuda 5 menit lalu yang harus melalui jalan yang rusak berat setiap hari, rasa bangga yang hampir membesar tadi harus tahu diri untuk tidak keluar.
Suasana pasar dengan berbagai aktifitas perdagangan barang dan jasa oleh manusia dari berbagai penjuru Manado, Minahasa, Bitung & Gorontalo terlihat tak beraturan. Hiruk pikuk manusia ini belum ditambah dengan aktifitas kendaraan apakah kendaraan bermotor roda dua atau roda empat, maupun kendaraan tak bermotor semisal bendi.
Lalu lalang orang-orang yang entah darimana datangnya, berusaha menembus debu plus kotoran kuda yang beterbangan, teriakan para pedagang asongan beradu dengan teriakan penjual pakaian cakar bongkar ditimpali kerasnya sound system dari penjual vcd bajakan, hampir membuat penulis mengurungkan niat untuk melangkah lebih jauh kedalam. Tapi maklumlah, hari ini kan hari Sabtu yang adalah hari pasar besar bagi ± 9 kecamatan disekitar Langowan.
Dari depan penulis, berpapasan beberapa pemuda yang entah dari mana, (menurut perkiraan penulis mungkin berasal dari desa bagian selatan Langowan) tampak berjalan menikmati suasana riuh ini karena bagi mereka suasana ramai seperti ini sangat jarang mereka temui mengingat letak desa mereka yang jauh dari pusat Kota Langowan. Sementara disudut lain, langkah-langkah beberapa pemuda tadi diiringi tatapan kurang bersahabat dari segerombolan pemuda lain yang sedang minum-minum, (tidak salah ?? ini kan baru jam 12 kurang ??) mereka mungkin berasal dari desa sekitar pasar ini yang merasa sebagai penguasa pasar dan kurang senang jika ada kelompok lain yang seenaknya saja masuk kekuasaan mereka tanpa melapor.
Dalam hati penulis berharap semoga saja tidak ada tindakan lebih lanjut dari tatapan kurang bersahabat tadi, karena sejak tiba penulis belum melihat seorang pun aparat keamanan, apakah itu polisi, satpam atau sekuriti pasar, belum juga ada yang terlihat sejak tadi.
Pasar sebesar ini tidak ada petugas keamanan ?? Mungkin ada tapi sedang patroli di bagian lain pasar ini. Ataukah mereka sedang duduk-duduk santai sementara para pemuda yang tadi minum-minum sedang menikmati hasil tagihan uang keamanan dan bertindak sebagai keamanan pasar yang nantinya sebagian pendapatan mereka setelah dipotong uang minum akan disetor kepada petugas yang bertanggungjawab terhadap keamanan pasar ?
Ataukah,…. ah penulis malas menduga-duga yang bukan-bukan nanti para petugas keamanan pasar marah membaca tulisan ini dan mereka mencekal penulis sehingga tidak boleh lagi menginjakkan kaki di pasar Baru *smile*.
Sementara berjalan penulis dipanggil seseorang, setelah dicari ternyata yang memanggil adalah seorang penjual ayam hidup, seorang teman lama yang berasal dari kecamatan tetangga Ratahan. Seorang sarjana di bidang hukum yang bergelar SH, lulusan salah satu perguruan tinggi negeri terkenal di Manado dan telah menjadi seorang peternak ayam. Setelah berbincang sebentar penulis meneruskan langkah lebih kedalam lagi, kali ini yang dituju adalah lokasi para pedagang daging babi.
Wah, setiba disana penulis terkejut,…. banyak sekali pedagang daging babi disini,…… penulis berpikir dari sebanyak ini pedagang yang mangkal disini, berapa ekor babi yang dipotong setiap hari pasar ? Belum lagi ditambah penjual daging babi yang mangkal di kompleks pasar lama.
Teringat oleh penulis, suatu waktu penulis sedang surfing di internet, dan sedang mencari suatu software dengan bantuan situs mesin pencari Google di www.google.com. Setelah selesai, saat itu iseng-iseng penulis memasukkan kata kunci “langowan” dan dalam hitungan detik di layar monitor muncul hasil pencarian segala sesuatu yang berkaitan dengan kata “langowan” di internet. Penulis terkejut karena dari pencarian tersebut, ternyata hasilnya ada ratusan alamat situs yang memuat kata “langowan”. Rasanya tidak mungkin penulis membuka semua situs yang jumlahnya ratusan tersebut.
Namun dari semua hasil pencarian, ada satu alamat situs berbahasa Inggris yang membuat penulis tertarik. Setelah dibuka, ternyata situs tersebut milik sebuah organisasi / LSM yang berbasis di Jerman, dan organisasi tersebut adalah organisasi yang khusus mengamati perkembangan pasar tradisional diseluruh dunia. Dan di situs itu pasar Langowan tercatat sebagai pasar tradisional terbesar di dunia khusus untuk kategori perdagangan daging babi. Jadi dengan kata lain menurut penelitian organisasi itu, perdagangan daging babi di pasar Langowan adalah yang terbesar di dunia.
Kembali ke pasar Langowan, ternyata data dari organisasi di Jerman tersebut bukan data fiktif dan tidak mengada-ada. Ini dapat dibuktikan dengan jumlah pedagang daging babi dan tingginya tingkat permintaan daging babi di pasar Langowan. Fakta ini kontras dengan situasi krisis ekonomi mengingat harga per kilogram daging babi yang mahal, namun fakta ini selaras dengan tingginya angka kematian di Langowan yang di sebabkan oleh penyakit hipertensi (darting) *smile*.
Dari lokasi pedagang babi, masih di dalam kompleks pasar, penulis berjalan ke arah timur, ke arah jalan keluar pasar. Debu dan kotoran kuda yang beterbangan seakan berebutan masuk ke hidung dan mulut semua orang di pasar ini.
Di samping kiri jalan masuk dan keluar, agak sedikit diluar kompleks pasar, terlihat beberapa bangunan yang sementara dalam tahap penyelesaian. Semula penulis mengira bangunan-bangunan tersebut milik pengusaha dari luar Langowan yang menanamkan modalnya ke Langowan. Namun penulis rupanya salah, karena setelah diteliti ternyata semua bangunan tersebut milik pengusaha Langowan, yang tidak sempat mendapat jatah ruko di dalam pasar. Dan bangunan ruko tersebut agak berbeda, karena milik mereka ini kelihatan agak mewah dibanding bangunan ruko di dalam kompleks pasar.
Setelah mengetahui pemilik dari ruko-ruko yang sementara di bangun tersebut, penulis sempat termenung dan ratusan pertanyaan muncul dalam hati, “Kalo memang bangunan ruko-ruko ini adalah investasi milik orang Langowan, lalu kemana mereka selama ini ??”, “Kemana uang mereka selama ini ??”, “Kenapa mereka baru terpikir sekarang untuk membangun dan menanamkan modal mereka ??”, “Kenapa sejak lama mereka diam melihat statisnya pembangunan di Langowan beberapa tahun lalu ??”, “Jika sudah sejak lama mereka menanamkan modal untuk membuka usaha baru, bukankah Langowan sudah maju dan (mungkin) bisa sejajar dengan Tomohon ??”, “Mengapa pula ketika pasar Baru mulai beroperasi, baru ramai-ramai mereka membuka usaha yang sama, yakni usaha dagang (toko) ??”, “Mengapa tidak pernah sekalipun mereka terpikir untuk membuka usaha yang bertujuan memajukan kualitas SDM Langowan misalnya dengan membuka usaha Warung Internet atau membuka kursus-kursus ??”. Mengapa, dan kenapa,…. waduh pusing….
Dan masih banyak lagi pertanyaan usil serupa jika melihat rakusnya para pengusaha dan para pemilik modal yang hanya menghisap keuntungan dari masyarakat Langowan tanpa memikirkan kemajuan Langowan dan peningkatan kualitas SDM orang Langowan. Bah,.. daripada pusing mengusili kekayaan orang lain, lebih baik segera mencari kendaraan untuk pulang.
Beberapa tukang ojek yang biasanya kalo hari Sabtu begini banyak pemasukan, menawarkan jasa. Sementara sibuk mencari kendaraan, penulis dikejutkan teriakan seorang calo bus umum tujuan Manado yang mencari penumpang di ruas jalan depan pasar. Yah, biasalah.. si sopir bilang kalo hari bagini penumpang ke Manado pakat, penumpang yang banyak justru yang dari Manado,.. mungkin alasan itulah mengapa sampai ia mencari penumpang di kompleks pasar, pertanyaan usil kembali muncul, “bagaimanapun situasinya, bukankah yang namanya kendaraan umum harus di terminal, kapan kita akan belajar disiplin dan menghormati kepentingan bersama ??”.
Karena di belakang bus tersebut, berbaris ± 4 bendi yang kusirnya berteriak tak senang dan penumpangnya menggerutu karena jalan masuk pasar kembali macet oleh bus tersebut. Walah, daripada tambah puyeng menyaksikan suasana pasar Baru Langowan siang ini, mending pulang saja.
Ketika bendi yang ditumpangi penulis mulai bergerak, terdengar ribut-ribut dan terlihat ada yang kejar-kejaran, ternyata beberapa pemuda preman pasar yang tadi minum-minum telah terlibat perkelahian dengan sesama mereka, sementara beberapa teman mereka yang lain tampak sibuk melerai perkelahian tersebut. Wah, rupanya harapan penulis tadi sedikit meleset.
Dalam perjalanan pulang, ketika dari kejauhan penulis memandang kearah pasar Langowan, penulis teringat ± dua tahun lalu ketika pasar Baru ini mulai dioperasikan. Protes dan unjuk rasa penolakan terhadap pemindahan dan penggusuran pasar lama datang dari berbagai elemen masyarakat yang umumnya dari kalangan pedagang di pasar Lama dan dari masyarakat di sekitar Pasar Lama, namun tidak membuat pemerintah kecamatan mundur, karena memang perintah untuk memindahkan pasar ini datangnya dari orang nomor satu di Kabupaten Minahasa, maka meski diiringi tangis serta makian dari pedagang pasar lama, beroperasilah pasar Baru Langowan.
Kini, kemana para orang-orang yang dulunya kencang berteriak memprotes keputusan pemindahan itu ? Ternyata mereka sibuk mencari kapleng di kompleks pasar Baru, sementara yang sebagian sisanya tetap berjualan di kompleks pasar Lama. Yah,…. semua orang memang harus pandai-pandai beradaptasi jika tak mau terlindas kemajuan dan perkembangan zaman.
Ketika penulis tiba di kompleks Pusat Pertokoan, suasana lumayan ramai walaupun tak seramai suasana di Pasar Baru. Disudut lain, terlihat sisa-sisa bangunan pasar Lama yang dirobohkan, kini telah digunakan warga disekitar Pusat Pertokoan menjadi tempat menjemur baju dan tempat pembuangan sampah sementara sampai diangkut oleh Dinas Pasar.
Para pedagang kecil dan pedagang kios-kios yang tersisa di kompleks pasar Lama ini seperti menderita suatu penyakit yang sangat parah sekali, sehingga hidup enggan, mati pun tak mau. Namun, untungnya penulis tidak bertanya yang usil-usil lagi dalam hati, hingga tanpa terasa tuntas sudah perjalanan siang ini,….
Hari Sabtu malam, malam Minggu kata anak muda. Jam tangan penulis menunjukkan waktu pukul 18.47 menit. Dalam perjalanan menuju ke sekretariat organisasi penulis, disekitar Pusat Pertokoan tampak berbaris puluhan motor yang digunakan untuk jasa ojek. Mereka biasanya menunggu penumpang dari Manado yang minta diantar ke beberapa desa di Langowan dan ke beberapa kecamatan di sekitar Langowan. Maklum, besok kan hari Minggu, hari libur, jadi banyak yang pulang kampung setelah seminggu bergulat dengan panasnya Manado, apakah mereka mahasiswa yang kuliah, ataupun karyawan yang bekerja di Manado.
Sementara itu dari puluhan toko dan kios yang terdapat di Pusat Pertokoan Langowan ini, kira-kira tinggal 5 (lima) saja yang masih buka. Ironis memang, mengingat suasana di Pusat Pertokoan ini siang tadi, apalagi jika dibandingkan dengan suasana di pasar Baru, wah terlalu jauh. Toko-toko yang lain sudah berebutan tutup sejak pukul 17.30 tadi.
Para pemuda yang lewat, tampak lebih rapi dari biasanya, mungkin karena ini malam Minggu. Namun sebelum menuju ke tujuan masing-masing, ternyata mereka singgah ke sebuah kios makan untuk sekedar “bagate sadiki for mo batoki pa maitua pe rumah”.
Jam tangan sudah menunjukkan pukul 20.32, ketika sebuah bus penumpang dengan trayek Manado-Tomohon tiba dari Manado mengangkut penumpang Langowan. Beberapa kusir bendi dan tukang ojek berebutan ingin mengantar penumpang yang baru tiba menuju ke tempat tujuan mereka. Karena memang tinggal inilah jenis transportasi yang tersisa pada jam-jam seperti ini. Setelah bernegosiasi dan kedua pihak sepakat tentang masalah pembayaran, berangkatlah beberapa sepeda motor dan bendi mengantar penumpang ke tujuan mereka.
Tanpa terasa malam semakin larut, pukul 21.17, jalanan semakin lengang, toko-toko yang tersisa tadi semakin berkurang dan kini tinggal 2 toko saja yang buka, itupun karena salah satu toko itu dijadikan tempat berkumpul para tukang ojek yang menunggu penumpang. Sementara toko yang satunya lagi belum tutup karena beberapa ABG (Angkatan Bokap Gue) sedang kongkow-kongkow disitu sambil menikmati minuman keras yang kelihatan sepertinya minuman keras jenis anggur. Mungkin karena ini malam minggu dan besok mereka tidak akan bekerja sehingga mereka diijinkan oleh istri-istri mereka untuk keluar dan nongkrong. Bagaimana jika ini bukan malam minggu ? Pasti toko tersebut juga sudah tutup sejak sore.
Pukul sembilan lewat tiga puluh menit, sebuah sepeda motor yang mengangkut seseorang berhenti di depan penulis. Rupanya sepeda motor tersebut adalah tukang ojek yang penumpangnya adalah teman penulis yang bekerja di Manado. Penulis kaget dan bertanya, kok dari Manado naik ojek ?.
Namun ternyata dia menumpang ojek dari Kawangkoan dan dia tiba dari Manado dengan menumpang kendaraan umum jenis mikrolet Angkutan Dalam Kota Manado yang bersedia mengantar para penumpang yang kehabisan kendaraan umum. Tentu saja dengan meminta tarif yang bisa naik sampai 50 % dari tarif yang sebenarnya.
Dan rupanya mikrolet tersebut hanya berani mengantar para penumpang tersebut hanya sampai ke Kawangkoan, karena ketika ada penumpang yang meminta untuk mengantar sampai Langowan dan menawarkan akan membayar lebih, si sopir tidak mau dengan alasan dia takut karena katanya menurut apa yang dia dengar dari rekan-rekannya sesama sopir bahwa Langowan itu rawan, baik rawan pelemparan kendaraan maupun rawan pencegatan untuk di pajak.
Wah…. kasihan sekali para penumpang tadi yang harus mencari kendaraan lain untuk sampai ke Langowan.
Sepuluh kurang lima menit, makin menjadi-jadi saja kebisuan malam minggu di Langowan ini, sampai bintang-bintang pun malas keluar rumah untuk sekedar cuci mata. Hingga meskipun sebenarnya masih ingin menikmati suasana malam ini, namun karena sudah tidak ada lagi yang bisa dinikmati, akhirnya penulis memutuskan untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang, di satu sudut perempatan tampak seorang bapak sekitar 40-an sedang berdiri dan berharap akan ada kendaraan umum yang akan mengantarnya ke Manado. Penulis sempat menyarankan agar si bapak menginap saja dulu ke rumah salah satu keluarganya, itupun jika ia punya keluarga disini, karena sepertinya ia akan kesulitan mendapatkan apa yang ia tunggu, sambil tersenyum dia berterima kasih untuk saran penulis dan katanya ia akan tetap menunggu, mudah-mudahan saja ia mendapat tumpangan.
Sementara itu di sudut perempatan yang lain, tampak beberapa orang dengan sepeda motor bergerombol dan tampak serius membicarakan sesuatu. Keusilan penulis nongol lagi, setelah mendekat, ternyata mereka adalah beberapa orang tukang ojek dan sekelompok anak muda. Menurut salah seorang tukang ojek, mereka sedang bernegosiasi untuk mengadakan balapan motor, balapan liar tentu saja. Selain negosiasi antara para pengendara yang akan bertarung, beberapa tukang ojek lain juga sibuk baku ator untuk taruhan siapa yang akan menang. Salah seorang tukang ojek sempat mengeluarkan kata-kata, “Yah kasiang, pakat penumpang kwa ini hari noh, daripada torang cuma dudu-dudu batunggu disini mar so nyanda ada penumpang, lebe bae torang beking rame deng cara bagini, hitung-hitung refreshing-lah, sekalian jo itu doi pendapatan ini hari yang cuma sadiki somo kase bataru samua, sapa tau jo kong menang kita pe kuda, dobel komang kita mo stor pa maitua”. Di sudut lain beberapa orang kelihatan sudah tidak sabar menanti tontonan gratis itu, sementara penulis melanjutkan perjalanan pulang….
Mata penulis sulit terpejam, karena memang ngantuk belum juga datang meski sudah diundang dengan cara menutup mata. Yang diundang ngantuk, yang datang justru si usil. Si usil memaksa penulis untuk sekali lagi merenung perjalanan hari ini dan bersama si usil pula penulis kembali berandai-andai,..
Seandainya saja ruas jalan menuju Pasar Baru dan Terminal sudah diperbaiki, pasti si kuda tidak jadi unjuk rasa dan Langowan tidak mengenal macet serta kendaraan umum tidak akan ada lagi yang enggan masuk terminal tidak akan pancuri jalur di kompleks Pusat Kota. Tapi, teriakan masyarakat yang menuntut itu cuma didengar Pemerintah Kecamatan untuk selanjutnya mereka katakan bahwa untuk tahun ini jalan itu belum masuk anggaran. Padahal jika diperhatikan, di ruas jalan itulah tak kurang dari 5 (lima) instalasi penting Langowan berdiri dan beraktifitas dengan intensitas tinggi setiap hari. Harap dicatat, mulai dari Pasar Baru Langowan, Kantor Camat Langowan, Terminal Langowan, Kancatel Telkom Langowan, dan SMUN 1 Langowan, semuanya beraktifitas di ruas jalan yang rusak parah,.. AH.. INDAHNYA LANGOWAN….
Seandainya saja para pengusaha dan para pemilik modal sudah sejak lama menanamkan modal mereka untuk membuka usaha baru, pasti sudah sejak lama juga banyak tenaga kerja akan terserap dan mengurangi pengangguran. Andaikan saja usaha semakin banyak, pasti semakin tinggi pula aktifitas ekonomi di Langowan. Dan ketika saat ini mereka telah berani terjun menanamkan modal, namun mereka justru sibuk bersaing dengan satu jenis usaha. Kemana jenis usaha yang berbasis IPTEK, semisal usaha Warung Internet, dan kemana para pengusaha yang berpikiran jauh kedepan, yang ingin orang Langowan tidak buta IPTEK dan yang tidak semata-mata membuka usaha hanya untuk menghisap laba yang besar. Benar kata seorang teman penulis yang mengatakan, para pemodal Langowan itu lebih banyak menanamkan modal mereka, kalo bukang mo beli oto, pasti beli kobong kering ato kobong pece. Jika saja sudah sejak lama mereka terjun menanamkan modal, bukan mustahil,.. Langowan akan menyusul Minahasa Selatan yang telah resmi disahkan menjadi Kabupaten Minahasa Selatan dan Tomohon yang juga telah resmi disahkan menjadi Kota Tomohon, tapi juga akan ada Kota Langowan…………………….. AH.. INDAHNYA LANGOWAN….
Seandainya saja semua generasi muda di Langowan bersatu dan membuat komitmen untuk memelihara keamanan dan berkomitmen untuk merubah citra buruk Langowan, pasti teman penulis tadi tidak perlu bersusah payah lagi menumpang ojek dari Kawangkoan karena semua kendaraan umum berani masuk Langowan jam berapapun itu.. AH.. INDAHNYA LANGOWAN….
Seandainya saja semua toko di Pusat Kota Langowan tidak hanya cari untung saja tanpa peduli bisunya Langowan di malam hari dan mereka sepakat untuk tutup pada pukul 20.00 atau jam 8 malam, pasti malam minggu akan seramai siangnya, cuci mata pun akan menjadi satu kegiatan refreshing yang murah meriah. Para tukang ojek tidak perlu lagi mempertaruhkan pendapatannya demi sebuah balapan liar karena malam minggu so nyanda pakat penumpang.. AH..INDAHNYA LANGOWAN….
Andai saja,….sungguh suatu khayalan yang indah,…. ah akhirnya datang juga si ngantuk ini, namun sebelum terlelap, dua pertanyaan usil muncul;
“Mungkinkah Langowan menjadi Kota ?”
“Pantaskah wacana Kota Langowan diangkat ?”
Kalo kita melihat dan berkaca pada semua fakta diatas, rasanya kita harus tahu diri dulu dan kedua pertanyaan diatas harus dijawab dengan ” TIDAK !!!! “.
Namun kalo dilihat dari khayalan andai-andai tadi, jawabannya yang harus diberikan adalah “KENAPA TIDAK ???”.
Kalau tidak mungkin, kenapa tidak dan kalau tidak pantas, kenapa tidak ?? Mari kita jawab bersama-sama dengan mewujudkan semua andai-andai tadi. Tapi tunggu dulu, sampai disini dimana peran Pemerintah Kecamatan ? Tapi,….malas ah.. ngomongin pemerintah, ruwet, pusing, susah ditebak.
Kalau bukan kita siapa lagi ?? Kalau bukan sekarang kapan lagi ?? Dan kalau kita tidak pernah memulai kapan kita akan selesai ??
Mari kita mulai dan kita mulai sekarang,.. AH..INDAHNYA LANGOWAN….
=========
